1# PROLOG
     - Ceritaku Pada Cermin -


Aku malu untuk menceritakan kepada cermin dihadapanku, aku takut cermin akan menertawakan meskipun cermin tak dapat berbicara. Aku sangat malu untuk melihat diriku sendiri dihadapan cermin. Aku akan terlihat sangat lemah dan bodoh. Cermin adalah temanku semasa ku hidup, ia yang selalu menemaniku dan mendengarkan cerita pilu dalam diriku. Andaikan cermin dapat berbicara bisakah ia membantu ku?


"Apakah kau akan mendengarkan ceritaku?"

Aku berada dihadapan dan menatapnya. Aku melihat diriku sendiri yang sudah mulai kusut dan bau penuh keringat. Aku baru saja pulang dari sekolahku dan seperti biasa bukan ilmu yang ku bawa tapi luka yang ada di tanganku. Ini belum seberapa masih banyak luka yang ku sembunyikan pada cermin.

"Cermin apakah kau tahu apa yang aku rasakan saat ini? Cermin andaikan kau dapat berbicara, andaikan kau memiliki perasaan, aku ingin sekali memelukmu sekali lagi, sangat...."

Air mataku jatuh membasahi pipi dan perlahan-lahan mulai mengalir dengan deras. Entah jika tidak ada cermin mungkin aku akan sangat kesepian. Malam pun mulai datang,  itulah yang aku takutkan. Dingin dan gelap mulai menyentuh  kulitku perlahan-lahan. Rasa penasaranku untuk mengakhiri hidupku di depan cermin mulai muncul di pikiranku. "TIDAK!" Apa yang aku pikirkan sungguh kekanak-kanakan, aku sudah tidak bisa berpikiran jernih. Di umurku yang mulai menginjak 18 tahun harus mengakhiri hidup pilu seperti ini. Aku terus menggeleng-gelengkan kepala agar terus menjauhkan semua pikiran negatif di otakku. Aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang mulai menggigil kedinginan dan berharap esok akan ada senyuman dari dalam diriku. Senyuman yang bisa membawaku kepada harapan-harapan bahwa aku tidak akan lemah lagi dihadapan cermin. "Selamat malam, cermin...." Dan akhirnya ku mulai menutup mata.

Comments