Kebekuan Hati dalam Penyesalan





Malam ini dingin sedingin hati mu yang membeku,
dimana hati yang tak dapat mencair adalah hati yang tak sanggup menerima kesalahan. kesalahan yang makin hari makin parah. Parahnya lagi hati yang tak sanggup lagi mengucap kata perpisahan. Setelah tak lama berjumpa ada sedikit penyesalan yang mendalam. Ketika hatimu sudah tak ada ruang untukku, apakah kau masih ingat tentang hari itu walau hanya sedikit?

Mungkin ini awal dari rasa penyeselan yang mulai datang perlahan-lahan. Yang sudah menyiksa hati seperkian detik demi detik. Kata perpisahan yang tlah ku ucap waktu itu sangat berat. Bodohnya lagi hati ini sudah tak sanggup memaafkan kesalahan-kesalahan yang tlah ku perbuat. Menjauhkan rasa yang tumbuh dengan susah payah lalu kau buang dengan entengnya. Bahkan ruang dihatinya pun sudah tersimpan kata-kata yang lebih pantas daripada menyebut namamu.

Walau ini sudah berakhir akankah selamanya kita menutup mata dan diam membisu? Bagiku perpisahan dan perkenalan adalah dua hal yang berarti sama, sama-sama mengecewakan. Bukan berarti bertemu denganmu adalah hal yang tak aku inginkan, justru itu hal yang sangat aku sukai dan aku rindukan. Merindu dimana saat sedang jatuh cintanya kita berdua, saat rasa malu-malu saling bersalaman tangan, saat mataku larut di dalam tatapan matamu, saat dimana kau selalu mengajaku untuk bersama. Tapi kenangan apalagi yang harus aku rindukan setalah "perpisahan" datang menghampiri kita?

Tentunya kata perpisahan harus ada satu alasan kuat, Mengapa?! Kau harusnya bertanya kepada hatimu, tapi hatiku kini sedang sangat menyesal untuk menjawabnya. Hatiku tak sanggup mengucap lagi alasan-alasan yang harus aku jawab jika ada seseorang yang bertanya. Dia lah yang memulai haruskah dia juga yang mengakhiri? Kau salah semakin lama memulai akan menuangkan hasil yang tak terduga. Itulah alasan perpisahan harus segera diucapkan.






Penablur_
annisa mutia,

Comments

Post a Comment